Saturday, February 25, 2017

Latar Belakang Lahirnya Sosiologi Pendidikan

      Latar Belakang Lahirnya Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan berkembang diawal abad ke-20 dan mengalami hambatan dalam perkembangannya, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif.
Perubahan sosial yang cepat itu meliputi berbagi bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti: industri, agama, perekonomian, keluarga, perkumpulan-perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Masalah pendidikan dalam keluarga, pendidikan disekolah, dan pendidikan dalam masyarakat merupakan refleksi masalah-masalah sosial dalam masyarakat.
Gejala-gejala seperti penderitaan rakyat, kegelisahan sosial, dan desintegrasi sosial (konflik) antar ras konflik politik, konflik antar golongan agama dan sebagainya merupakan gejala umum yang terdapat dalam berbagai masyarakat. Krisis yang kita alami sekarang adalah krisis dalam hubungan antar manusia, tata sosial, dan krisis dalam hal kepercayaan.
Masyarakat pada hakikatnya merupakan sistem hubungan antara satu dengan yang lain. Tiap masyarakat mengalami perubahan dan kontinuitas (kelangsungan), integrasi dan desintegrasi, kerjasama dan konflik. Dasar ikatan masyarakat ialah adanya kepentingan dan nilai-nilai umum yang diterima oleh anggota-anggotanya. Program yang berlawanan dari kelompok-kelompok masyarakat menyebabkan berkurangnya kesetian terhadap nilai-nilai umum itu. Jika hal itu terjadi masyarakat jelas akan mengalami disentegrasi.
R. Linton mendefinisikan nilai-nilai dalam masyarakat dapat digolongkan menjadi dua yaitu: “nilai-nilai inti (universal), nilai-nilai periphery (alternatives)”.[1]
Universal sifatnya kuat, integrated, stabil dan diterima oleh sebagian besar anggota masyarakat, bahkan menjadi dasar daripada tata sosial masyarakat. Sedangkan alternatifes sifatnya tidak stabil, kurang integrated dan hanya diterima oleh sebagian anggota masyarakat. Apabila masyarakat berubah cepat, maka alternatife tumbuh banyak, hal itu dapat mengaburkan universal, isi nilai-nilai inti menjadi berkurang. Akibatnya kebudayaan menjadi kehilangan pola dan kesatuannya.
            Hilangnya nilai-nilai inti berarti disentegrasi sosial sumber daripadanya ialah perubahan sosial yang cepat terutama dalam bentuk urbanisasi. Hubungan yang mula-mula didasari dengan ikhlas berubah menjadi hubungan pamrih. Pergeseran itulah yang merupakan sumber berbagai masalah sosial. Institusi pendidikan tidak mampu mengejar perubahan sosial yang cepat itu, yang disebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menimbulkan berbagai  kultural. Oleh karena itu, ahli-ahli sosiologi kemudian menyambungkan  pemikiran-pemikiran untuk turut memecahkan masalah pendidikan itu. Maka lahirnya suatu disiplin baru yang disebut sosiologi pendidikan.



[1]. Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT. Ciputat Press, 2004), hal. 3

No comments:

Post a Comment