Saturday, February 25, 2017

Pelaksanaan Program Kerja Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)

A.    Pelaksanaan Program Kerja Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)
Sesuai dengan hasil temuan dilapangan, dapat di jabarkan sedikit mengenai pelaksanaan program kerja khususnya pada bidang pengembangan sumber daya manusia (PSDM). Pembentukan PSDM dalam lembaga pers tersebut memiliki visi yakni untuk menambah wawasan dan memperluas gagasan tentang isu – isu global serta pemikiran – pemikiran dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pentingnya pelaksanaan bidang tersebut adalah mengingat bertambah pesatnya dunia globalisasi sehingga komputer dan media harus dikuasai dengan baik untuk era pembangunan teknologi saat ini. karna komputer merupakan salah satu hasil dari perkembangan IPTEK yang semakin maju. Hal tersebut membutuhkan bekal ilmu yang memadai untuk peningkatan mutu dan daya kritis seseorang.
1.    Kegiatan Bidang PSDM
Bidang PSDM memiliki program kerja antara lain:
-          mengadakan kajian diskusi
tujuan dari kegiatan tersebut adalah meningkatkan kualitas anggota dalam menanggapi isu – isu yang tersebar di media serta mendiskusikannya sehingga akan mempertajam pola pikir seseorang.
-          program pelatihan komputer.
Seperti yng sudah dijelaskan sebelumnya, menurut survey yang ada di lapangan, memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas anggota lembaga pers tersebut dalam penguasaan komputer dalam menghadapi era pembangunan yang terjadi saat ini.
2.    Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan dilakukan setiap satu minggu sekali dengan waktu yang berbeda. Pada bidang kajian diskusi dilakukan setiap hari rabu siang, sedangkan pelaksanaan pelatihan komputer dilakukan setiap hari minggu pagi.
3.    Target
Target dalam proses pelaksanaan program tersebut diperuntukkan kepada semua anggota maupun pengurus LPM Paradigma UIN Sunan Klijaga Yogyakarta

4.    Dana
Dalam perjalanannya, proses pelaksanaan kegiatan atau program kerja yang dimiliki PSDM tidak akan terlepas dari anggaran dana. Setiap kegiatan membutuhkan dana sekitar 10.000 untuk membeli perlengkapan atau fasilitas diskusi maupun program pelatihan komputer. Anggaran tersebut sudah disepakati oleh pihak yang bersangkutan ketika sosialisasi program kerja di awal kepengurusan.
            Anggaran tersebut berasal dari pihak fakultas maupun universitas yang memang sudah dianggarkan oleh negara untuk membiayai kegiatan intra kampus. Dan mendapatkan anggaran yang lain dari senior maupun iuran anggota setiap kali pertemuan atau melakukan program kerja sehingga program kerja dapat berjalan sesuai apa yang di rencanakan.
B.     Pelaksanaan Evaluasi Program Kerja Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)
1.      Pelaksanaan Program Evaluasi.
Pendekatan evaluasi merupakan beberapa pendapat mengenai tentang apa tugas evaluasi, bagaimana evaluator melakukan evaluasi atau dengan kata lain, pendekatan evaluasi adalah beberapa prosedure dan tujuan evaluasi.
Ada beberapa pendekatan dalam melakukan pendekatan dalam evaluasi program, setiap pendekatan memberikan petunjuk bagaimana memperoleh informasi yang berguna dalam bebrapa kondisi. Semua pendekatan paling tidak mempunyai tujun yang sama yaitu, bagaimana memperoleh informasi yang berarti atau tepat untuk pemakai atau klien.
Berikut adalah beberapa pendekatan – pendekatan dalam melakukan evaluasi :
1.      Pendekatan Eksperimental.
Pendekatan eksperimental yaitu evaluasi yang berorientasi pada penggunaan eksperimental sciene dalam program evaluasi. Pendekatan ini berasal dari control eksperimen yang biasanya dilakukan dalam penelitian akademik. Tujuan evaluator adalah untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum tentang dampak suatu program tertentu yang mengontrol sebanyak banyaknya faktor dan mengisolasi pengaruh program.
Adapun yang dilakukan evaluator pada pendekatan eksperimental, sama seperti seorang peneliti, yaitu evaluator menciptakan situasi yang diskontrol di mana beberapa subjek menerima perlakuan sedangkan yang lainnya tidak dan membandingkan kedua kelompok untuk melihat dampak program. Evaluator memakai teknik dasar desain eksperimental acak, kelompok control dan analisis longitudinal untuk menarik kesimpulan tentang dampak perlakuan.
Kelebihan dari pendekatan eksperimental ini adalah kemampuannya dalam menarik kesimpulan yang relatif objektif, generalisasi jawaban terhadap pertanyaan program yang bersangkutan. Hal ini membuat pendekatan ini lebih popular dan terpercaya serta disukai pemakai dan pembuat keputusan.
Kelemahan dari pendekatan ini adlah karena pendekatan ini membuat evaluator sebagai orang ketiga yang objektif dalam program yang menjalankan prinsip – prinsip desain penelitian dalam desain pengevaluasian untuk memperoleh informasi yang tidak diragukan kebenarannya atas dampak program dengan posisi evaluator yang seperti itu, jarang ada klien yang mengerti pentingnya konsistensi acak dan lain – lain yang dilakukan oleh evaluator.
2.      Pendekatan yang berorientasi pada tujuan ( Goal Oriented  )
Cara yang paling logis untuk merencanakan suatu program yaitu merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus dan memebentuk kegiatan program untuk mencapai tujuan tersebut. Hal yang sama juga diperoleh pada pendekatan orientasi tujuan evaluasi. Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan, evaluator mencoba mengukur sampai dimana pencapaian tujuan telah dicapai.
Pendekatan ini memberi petunjuk kepada pengembangan program untuk menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dan hasil yang akan dicapai. Peserta tidak hanya harus menjelaskan hubungan tersebut di atas, tetapi juga harus menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur. Dengan demikian akan ada hubungan yang logis antara kegiatan, hasil, dan prosedure pengukuran hasil.
Selain itu, evaluator juga dapat membantu klien menerangkan rencana penerapan dan melihat proses pencapaian tujuan yang memperlihatkan kemampuan program menjalankan kegiatan sesuai rencana. begitu tujuan umum dan tujuan khusus terjelaskan, tugas evaluator menentukan sampai sejauh mana tujuan program telah tercapai.
Bermacam macam alat ukur akan dipakai untuk melakukan tugas ini, tergantung pada tujuan yang akan di ukur. Dalam hal ini keberhasilan diukur dengan kriteria program khusus bukan dengan kelompok control atau dengan program lain seperti halnya dalam pendekatan eksperimen.
Kelebihan dari pendekatan ini adalah lebih mengarahkan pada orientasi tujuan yng terletak pada hubungan antara tujuan dan kegiatan dan penekanan pada elemen khusus bagi mereka. Sedangkan keterbatasan dari pendekatan ini adalah kemungkinan evaluasi melewati konsekuens yang tidak diharapkan akan terjadi.
3.      Pendekatan yang berfokus pada keputusan ( The Desicion Focused Approach )
Pendekatan yang berfokus pada keputusan, menekankan pada peranan informasi yang sistematik untuk pengelola program dalam menjalankan tugasnya. Sesuai dengan pandangan ini, informasi akan amat berguna apabila dapat membantu para pengelola program membuat keputusan. Oleh sebab itu, kegiatan evaluasi harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan untuk keputusan program.
Pada tingkat perencanaan, pembuat program memerlukan informasi tentang masalah dan kapasitas organisasi. Selama dalam tingkat implementasi administrator memerlukan informasi tentang proses yang sedang berjalan. Bila program sudah selesai,keputusan – keputusan penting akan dibuat berdasarkan hasil yang akan dicapai. Evaluator harus mengetahui dan mengerti perkembangan program dan harus siap menyediakan bermacam – macam informasi pada bermacam – macam waktu.
Evaluator memerlukan dua macam informasi dari klien, pertama ia harus mengetahui butir – butir keputusan penting pada setiap periode selama program berjalan. Kedua, ia perlu mengetahui macam informasi yang mungkin akan sangat berpengaruh untuk setiap keputusan.
Keunggulan dari pendekatan ini ialah perhatiannya terhadap kebutuhan pembuat keputusan yang khusus dan pengaruh yang makin besar pada keputusan program yang relevan. Sedangkan keterbatasan dari pendekatan ini ialah banyak keputusan penting yang dibuat tidak pada waktu yang tepat, tetapi pada waktu yang kurang tepat. Seringkali keputusan banyak yang tidak dibuat berdasarkan data, tetapi tergantung pada impresi perorangan, politik, perasaan, kebutuhan pribadi, dan lain – lain.
4.      Pendekatan yang berorientasi pada pemakaian.
Sejumlah penelitian mengembangkan pendekatan baru yang menekankan perluasan pemakaian informasi. Hal ini di sebut dengan pendekatan The User Oriented. Yaitu, pemakaian informasi yang potensial adalah yang menjadi tujuan utama.
Evaluator memfokuskan evaluasi dengan membentuk kelompok pemakai. Selanjutnya, kelompok tersebut akan menolong membuat kerangka evaluasi, merumuskan pertanyaan – pertanyaan yang penting, memilih strategi pengukuran, mereview hasil awal dan menggiring mereka msegera bertindak dan akhirnya menerima hasil evaluasi.
Kelebihan pendekatan ini adalah perhatiannya terhadap individu yang berurusan dengan program dan perhatiannya terhadap informasi yang berguna untuk individu tersebut. Serta hasil evaluasi akan selalu terpakai. Sedangkan keterbatasan dari pendekatan ini adalah ketergantungannya terhadap kelompok yang sama dan kelemahan ini bertambah besar pengaruhnya sehingga hal – hal lain diluar itu kurang mendapat perhatian. Kelompok itu dapat berganti komposisi berkali - kali dan ini dapat mengganggu kelangsungan atau kelancaran kegiatan evaluasi. Akhirnya, mereka yang lebih banyak bicara dan lebih persuasif dapat berpengaruh lebih besar.[1]
Dari berbagai pendekatan yang ada, evaluasi program yang terjadi adalah menggunakan penggunaan evaluasi yang berorientasi pada tujuan. Hal tersebut dikarenakan setiap program merupakan suatu hal yang berorientasikan pada tujuan yakni bagaimana meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia menjadi manusia yang dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki.



[1]Tayibnapis Farida Yusuf, Evaluasi program dan Instrumen Evaluasi untuk Program Pendidikan dan Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm 23-30

No comments:

Post a Comment