Tuesday, March 14, 2017

Konsep Dasar Sosiologi Pendidikan

Matakuliah Sosiologi Pendidikan
dosen pengampu Drs. Subiyantoro




Oleh:
M. Latif Basafi
13490008
Manajemen pendidikan islam


Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga Jogjakarta
Periode Akademik 2015/2016


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sosiologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang membicarakan bagaimana proses interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang individu untuk mempengaruhi individu lain untuk mencari pengalaman baru serta mengorganisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Saat ini perubahan sosial yang cepat telah terjadi dalam masyarakat, perubahan tersebut terjadi di berbagi bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti: industri, agama, perekonomian, keluarga, perkumpulan-perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Masalah pendidikan dalam keluarga, pendidikan disekolah, dan pendidikan dalam masyarakat merupakan refleksi masalah-masalah sosial dalam masyarakat.
Gejala-gejala seperti penderitaan rakyat, kegelisahan sosial, dan desintegrasi sosial (konflik) antar ras konflik politik, konflik antar golongan agama dan sebagainya merupakan gejala umum yang terdapat dalam berbagai masyarakat. Krisis yang kita alami sekarang adalah krisis dalam hubungan antar manusia, tata sosial, dan krisis dalam hal kepercayaan.
  

B.     Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian sosiologi dan sosiologi pendidikan?
2. hal apa yang melatar belakangi lahirnya sosiologi pendidikan?
3. Seperti apakah ruang lingkup kajian sosiologi pendidikan?
4. Apa tujuan sosiologi pendidikan?
5. Bagaimana fungsi dan peranan sosiologi pendidikan?

C.    Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas matakuliah sosiologi pendidikan sebagaimana kita ketahui pentingnya sosiologi di dalam dunia pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP DASAR SOSIOLOGI PENDIDIKAN

A.    Pengertian Sosiologi dan Sosiologi Pendidikan
a.       Pengertian Sosiologi
Sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang cara berteman atau bersahabat yang baik atau cara bergaul yang baik dengan masyarakat.
Mayor Polak mendefinisikan Sosiologi adalah “ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis”.[1]
Jadi, sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang hubungan manusia dengan lingkungan masyarakat.
b.      Pengertian Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan merupahan suatu ilmu yang membicarakan bagaimana proses interaksi sosial yang dilakukan oleh seorang individu untuk mempengaruhi individu lain untuk mencari pengalaman baru serta mengorganisasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
F. G. Robbins dan Brown mendefinisikan sosiologi pendidikan adalah “ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan  sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalamannya”.[2]
Jadi, sosiologi pendidikan adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas proses interaksi sosial anak-anak mulai dari keluarga, masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosio kulturil yang terdapat di dalam masyarakat dan negaranya.

B.     Latar Belakang Lahirnya Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan berkembang diawal abad ke-20 dan mengalami hambatan dalam perkembangannya, kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif.
Perubahan sosial yang cepat itu meliputi berbagi bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial, seperti: industri, agama, perekonomian, keluarga, perkumpulan-perkumpulan dan pendidikan. Masalah sosial dalam masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Masalah pendidikan dalam keluarga, pendidikan disekolah, dan pendidikan dalam masyarakat merupakan refleksi masalah-masalah sosial dalam masyarakat.
Gejala-gejala seperti penderitaan rakyat, kegelisahan sosial, dan desintegrasi sosial (konflik) antar ras konflik politik, konflik antar golongan agama dan sebagainya merupakan gejala umum yang terdapat dalam berbagai masyarakat. Krisis yang kita alami sekarang adalah krisis dalam hubungan antar manusia, tata sosial, dan krisis dalam hal kepercayaan.
Masyarakat pada hakikatnya merupakan sistem hubungan antara satu dengan yang lain. Tiap masyarakat mengalami perubahan dan kontinuitas (kelangsungan), integrasi dan desintegrasi, kerjasama dan konflik. Dasar ikatan masyarakat ialah adanya kepentingan dan nilai-nilai umum yang diterima oleh anggota-anggotanya. Program yang berlawanan dari kelompok-kelompok masyarakat menyebabkan berkurangnya kesetian terhadap nilai-nilai umum itu. Jika hal itu terjadi masyarakat jelas akan mengalami disentegrasi.
R. Linton mendefinisikan nilai-nilai dalam masyarakat dapat digolongkan menjadi dua yaitu: “nilai-nilai inti (universal), nilai-nilai periphery (alternatives)”.[3]
Universal sifatnya kuat, integrated, stabil dan diterima oleh sebagian besar anggota masyarakat, bahkan menjadi dasar daripada tata sosial masyarakat. Sedangkan alternatifes sifatnya tidak stabil, kurang integrated dan hanya diterima oleh sebagian anggota masyarakat. Apabila masyarakat berubah cepat, maka alternatife tumbuh banyak, hal itu dapat mengaburkan universal, isi nilai-nilai inti menjadi berkurang. Akibatnya kebudayaan menjadi kehilangan pola dan kesatuannya.
            Hilangnya nilai-nilai inti berarti disentegrasi sosial sumber daripadanya ialah perubahan sosial yang cepat terutama dalam bentuk urbanisasi. Hubungan yang mula-mula didasari dengan ikhlas berubah menjadi hubungan pamrih. Pergeseran itulah yang merupakan sumber berbagai masalah sosial. Institusi pendidikan tidak mampu mengejar perubahan sosial yang cepat itu, yang disebabkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menimbulkan berbagai  kultural. Oleh karena itu, ahli-ahli sosiologi kemudian menyambungkan  pemikiran-pemikiran untuk turut memecahkan masalah pendidikan itu. Maka lahirnya suatu disiplin baru yang disebut sosiologi pendidikan.

C.    Mengorganisasikan Ruang Lingkup Kajian Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi antara individu-individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok. Secara khusus sosiologi pendidikan itu membicarakan, melukiskan dan menerangkan institusi-institusi, kelompok-kelompok, sosial dan proses kelompok sosial, hubungan sosial dimana didalam dan dengannya manusia memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya. Jadi sosiologi pendidikan tidak hanya terbatas pada studi sekolah saja tetapi lebih luas lagi ialah mencakup institusi-institusi sosial dengan batasan sepanjang  pengaruh daripada totalitas miliekulural terhadap perkembangan kepribadian anak.
Wilayah kajian sosiologi pendidikan memang sangat luas, namun kajiannya tidak terlepas dari berbagai persoalan masyarakat dan yang memungkinkan institusi pendidikan merekam berbagai persoalan dalam masyarakat tersebut. Pendidikan yang dilembagakan seperti persekolahan, dituntut untuk dapat merekam segala fenomena yang terjadi di masyarakat, selanjutnya sekolah memberikan penjelasan kepada peserta didik terhadap ontologis dari suatu peristiwa. Dengan adanya peristiwa tersebut diharapkan peserta didik dapat menentukan arah dan sikap yang tepat dalam merespon positif atau negatifnya sebuah peristiwa.
Mengingat banyaknya masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, mengharuskan masyarakat dituntut untuk turut serta aktif bahkan proaktif dan bertanggungjawab  terhadap penyelenggaraan persekolahan. Walaupun sangat dirasakan bahwa tuntutan masyarakat selalu lebih besar daripada peranan masyarakat itu sendir, padahal kepedulian masyarakat akan menentukan meningkatnya pendidikan.
Menurut teori hirarki kebutuhan Maslow yang dikutip oleh Armstrong (1994) berlaku universal pada manusia hampir disepakati oleh ilmuan, yang inti dari teori tersebut mengatakan bahwa manusia membutuhkan pemenuhan-pemenuhan sebagai berikut:
a)Fisiologis: kebutuhan makan, minum dan hal-hal yang penting untuk kehidupan, b) keselamatan atau keamanan: kebutuhan perlindungan dari bahaya dan kehilangan kebutuhan fisiologis, c) sosial: kebutuhan cinta, kasih sayang dan diterima sebagai anggota kelompok sosial, d) penghargaan: kebutuhan memiliki harga diri yang stabil dan tinggi serta kebutuhan untuk dihormati orang lain, e) pemenuhan diri: kebutuhan untuk mengembangkan potensi dan kecakapan, untuk menjadi orang yang dipercaya orang lain.
Wilayah kajian sosiologi pendidikan yang cukup luas dengan segala aspek kehidupan masyarakat dengan segala atributnya, menjadikan sosiologi pendidikan sebuah disiplin ilmu yang penting diberiakan dilembaga pendidikan tenaga kependidikan islam (LPTKI). Sebab kajian mengenai masyarakat tidak akan putus-putusnya, terutama berkaitan dengan norma dan nilai yang dianut, baik itu  norma dan nilai yang berdasarkan budaya, terutama yang berdasarkan agama.

D.    Tujuan Sosiologi Pendidikan
Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya adalah untuk mempercapat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapai tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri.[4]
Adapun tujuan sosiologi pendidikan di Indonesia adalah:
1.      Berusaha memahami peranan sosiologi daripada kegiatan sekolah terhadap masyarakat, terutama apabila sekolah ditinjau dari segi kegiatan intelektual.
2.      Untuk memahami seberapa jauhkah guru dapat membina kegiatan sosial anak didiknya untuk mengembangkan kepribadian anak.
3.      Untuk mengetahui pembinaan ideologi pancasila dan kebudayaan nasional Indonesia di lingkungan pendidikan dan pengajaran.
4.      Untuk mengadakan integrasi kurikulum pendidikan dengan masyarakat sekitarnya agar pendidikan mempunyai kegunaan praktis didalam masyarakat, dan seluruh negara.
5.      Untuk menyelidiki faktor-faktor kekuatan masyarakat, yang bisa menstimulir pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.
6.      Memberi sumbangan yang positif terhadap penggunaan prinsip-prinsip sosiologi untuk mengadakan sosiologi sikap dan kepribadian anak didik.[5]
Selain itu ditemukan beberapa konep tentang tujuan sosiologi pendidikan, yaitu sebagai berikut:
a.       Menganalisis proses sosialisasi anak. Baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
b.      Menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial.
c.       Menganalisis status pendidikan dalam masyarakat.
d.      Menganalisis partisipasi orang-orang terdidik atau berpendidikan dalam kegiatan sosial.
e.       Membantu menentukan tujuan pendidikan.
f.       Sosiologi pendidikan bertujuan utama memberikan kepada guru-guru (termasuk pada peneliti dan siapapun yang tertarik dalam bidang pendidikan) latihan-latihan yang efektif dalam bidang sosiologi dapat memberikan sumbangannya secara cepat dan tepat kepada masalah pendidikan.[6]
dengan demikian, sosiologi pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik, selain berharga untuk menganalisis pendidikan, juga bermanfaat untuk memahami hubungan antar manusia disekolah serta masyarakat.

E.     Fungsi dan Peran Sosiologi Pendidikan
Sebagaimana ilmu pengetahuan pada umumnya, sosiologi pendidikan  dituntut melakukan tiga fungsi pokok, yaitu:
1.      Fungsi eksplanasis, yaitu dalam menjelaskan atau memberikan pemahaman tentang fenomena yang termasuk kedalam ruang lingkup pembahasannya.
2.      Fungsi prediksi, yaitu meramalkan kondisi dan permasalahan pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang.
3.      Fungsi utilisasi, yaitu menangani permasalahan-permasalahan yang dialami dalam kehidupan masyarakat seperti masalah lapangan kerja dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain yang memerlukan dukungan pendidikan, dan masalah penyelenggaraan  pendidikan sendiri.[7]
Jadi, secara umum sosiologi pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena sosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, sosiologi pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan prantara kehidupan lain.
Salah satu fungsi sosiologi pendidikan di Indonesia adalah memantapkan pancasila sebagai universal yang menjadi dasar integrasi nasional.



BAB III
PENUTUP

1.      Simpulan
Sosiologi pendidikan merupakan suatu ilmu yang membahas persoalan-persoalan didunia pendidikan dengan menggunakan pendekatan sosiologis.
Latar belakang lahirnya sosiologi pendidikan berawal dari perubahan sosial yang cepat di masyarakat. Dengan perubahan tersebut, muncullah cultural lag. Yang mana hal tersebut menjadi sumber dari permasalahn sosial yang dialami oleh lembaga pendidikan, dan lembaga pendidikan tidak mampu mengatasinya. Kemudian para ahli sosiologipun memberikan sumbangan pemikirannya dan lahirlah sosiologi pendidikan.
Lingkup kajian sosiologi pendidikan (S. Nasution, 1983) mencakup hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat, hubungan antar manusia dalam sekolah, pengaruh sekolah terhadap kelakuan dan kepribadian semua pihak disekolah (guru dan siswa) serta sekolah dalam masyarakat.
sosiologi pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik, selain berharga untuk menganalisis pendidikan, juga bermanfaat untuk memahami hubungan antar manusia disekolah serta masyarakat.
Salah satu fungsi sosiologi pendidikan di Indonesia adalah memantapkan pancasila sebagai universal yang menjadi dasar integrasi nasional.



2.      Saran
Saran penulis agar pembaca lebih mengembangkan kedalam refrensilain untuk rujukan yang lebih melebar, wawasan akan di dapatkan ketika kita membaca, saran untuk kritis dan berfikir mendalam selalu penulis harapkan.

                                            


DAFTAR PUSTAKA

Ary H. GunawanSosiologi Pendidikan. 2010. Rineka Cipta. Jakarta.
Muhyi BatubaraSosiologi Pendidikan. 2004. PT. Ciputat Press. Jakarta.
Abu AhmadiSosiologi Pendidikan. 2004. Rineka Cipta. Jakarta



[1] Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 3

[2] Muhyi BatubaraSosiologi Pendidikan. 2004. PT. Ciputat Press. Jakarta.

[3]. Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT. Ciputat Press, 2004), hal. 3

[4] Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT. Ciputat Press, 2004), hal. 3
[5] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 10
[6] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 10
[7] Dyah, (2012). Fungsi Sosiologi

No comments:

Post a Comment